Dec 8, 2017

Insomnia, Penyebab Seluruh Kegundahan Ini

Insomnia,
satu kata namun mematikan.

Entah kenapa insomnia selalu menghampiriku, padahal aku enggan sekali bertemu dengannya.
Insomnia bisa menyebabkan kegundahan yang mendalam.
Insomnia,
Dikala itu, aku sedang bercanda dengan seseorang di malam hari,
mendengarkan tawanya, candanya dan juga kegemerlapan dunia malam hari
Semua terasa indah kalau itu denganmu
Kau memberikanku segala arah dan tujuan
Kau meyakinkanku agar kita selalu bersama kelak, sampai hanya maut yang bisa memisahkan kita
Kau pula yang menyanjungku dengan alunan gitarmu yang menyihirku
Menyihirku supaya aku terniang selalu dalam sanubarimu
Dan kamu berhasil membuatnya berlinang penuh asmara


Tapi...
Semua hanyalah asa
Nyata tapi semu
Semu tapi ada di dunia yang fana
Aku terbuai oleh kata
Kelam kau buatku menjadi sangat kelam
tak berarah dan mati rasa
apa salahku? hingga kau setega ini padaku.
Ya, mungkin salahku karena aku terlalu mempedulikanmu hingga aku acuh pada diriku sendiri
acuh bahwa kau selama ini mempermainkanku
Aku terlalu sibuk mengkhawatirkanmu
tapi, kau tak pernah sekalipun mengkhawatirkanku
karena, kau masih punya dia yang lain
kau masih punya tempat untukmu bersandar
Dia yang lain, yang setia menemanimu dalam suka maupun duka
ya aku tau aku hanyalah asa semu tak nyata
Terima kasih,
kau telah merajam jantungku
merebus segala tawaku hingga yang tersisa hanyalah air mata kepedihan



-sekian-

Goals tahun 2017, tercapai?

Nggak terasa sekarang sudah ada di bulan Desember, bulan terakhir di tahun 2017. Rasanya dunia berputar semakin cepat atau hanya aku saja yang jalan di tempat? Sepertinya aku saja yang berjalan ditempat.
Sudah lama pula aku nggak singgah di blog ini. Entah memang aku yang sok sibuk atau terlalu terlena dengan dunia yang harusnya fana dan semu? Ya itulah hidup.
Ngomong-ngomong soal hidup, tahun 2017 kalian sudah capai goals apa saja nih guys? Pasti dong kalian punya "GOAL" tertentu di setiap tahunnya. Aku juga punya, tapi entah bisa dibilang semuanya tercapai atau belum, yang pasti aku merasa sangat bersyukur sekali karena masih bisa diberikan kesempatan hidup di tahun ini.
Goal aku di tahun ini ada banyak, namun yang sekarang mau aku share yaitu tentang GOAL TRAVELLING AKU.
GOAL yang aku set di awal tahun 2017.
Tujuan:
1. Ranu kumbolo
2. Singapore
3. Belitung
4. Derawan Island
5. Flores-Komodo Island.
Tapi, aku hanya bisa berkunjung kedua tempat, yaitu ke ranu kumbolo di bulan July 2017 dan Flores, tepatnya di pulau komodo bulan Oktober 2017.
Alhamdulillah sekali Allah masih memberikanku kesehatan untuk bisa berkunjung ke dua tempat tersebut meski aku belum bisa mencapai travel goal ku secara keseluruhan tahun ini.
Terima kasih sudah membaca tulisan recehku ini. :)

Feb 12, 2017

Surat kekecewaanku terhadap layanan service internet wifi MY REPUBLIC.

Saya sudah menjadi pelanggan tetap my republic sejak 1 tahun yg lalu. Saya memilih internet rumah My republic karena harganya terjangkau ditengah posisi rumah saya yg berada diperbatasan sidoarjo-surabaya. Yang mana pada umumnya wifi didaerah sini harganya berkisaran 300-500ribu.
Tapi, kali ini saya sangat kecewa! Saya tidak pernah membayar wifi telat atau melebihi batas tempo yg sudah ditentukan, tapi kok tiba2 saya mendapatkan sms kalau saya terlambat membayar. Wtf is going on with their system? Man, im perfectionist, I told you I was never late if its all about payment something.
Lalu, saya telfon cs my republic dan saya  tercengang karena tagihan naik sejak januari 2017. LANTAS, SAYA TIDAK MENDAPATKAN INFO APA2 MENGENAI KENAIKAN HARGA INI. HELLO, ANDA KEMANA SAJA? TIDAK MELIHAT SAYA SEBAGAI PELANGGAN YG TDK PERNAH BAYAR TELAT?
SAYA JENGKEL SEKALI KARENA CS BILANG KALAU SAYA TELAT DAN SUDAH DIEMAIL TTG PEMBERITAHUAN KENAIKAN HARGA.
MANA? TIDAK ADA KEJELASAN SAMA SEKALI, LALU DENDA DIBEBANKAN PADA CUST. HARUSNYA ADA PEMBERITAHUAN 1 BULAN SEBELUM KALAU MAU NAIK. BUKAN BEGINI CARANYA.
Ini bukan masalah jumlah sedikit banyaknya uang, tapi masalah harga diri saya yang dikatakan telat membayar. Padahal jatuh tempo saya tanggal 12 setiap bulan, saya selalu membayar setial tanggal 1-5. Saya perfectionis, segala sesuatunya selalu saya catat dan perhatikan.
Maaf saya sudah jengkel sekali dengan pelayanan My republic. Saya bingung mau menulis surat komplain dimana, satu2nya media yg saya punya yaitu blok ini. Semoga google bisa membaca dan para pembaca juga bisa mendapatkan sesuatu dr yg saya tulis. Apa ada info layanan wifi yg lebih baik dari ini di daerah perbatasan sidoarjo-surabaya? Info me, kalau ada. Thanks.

Jan 22, 2017

No BF, No Cry! Berikut 4 Hal Positif Kalau Kamu Nggak Punya Pacar.

NO BF, NO CRY! That's definetely true! I strongly agree with that words. Why? Because everyone has a right to get what they deserve. Sobat, kalau kamu sependapat dengan Ochan, maka pada dasarnya kita sama, yaitu JOMBLO! Haha. Nope, kita bukan jomblo tapi sedang mencoba untuk menghibur diri supaya nggak jadi JONES, tapi kita bakalan jadi jomblo berkualitas dan berkelas. Kalau kamu masih berpikir kalau nggak punya pacar itu bikin kamu terpuruk, mending kamu ngopi dulu deh biar nggak salah paham. Setelah ngopi, yuk boleh dibaca 4 poin menarik dari Ochan yang bakalan membuktikan kalau nggak punya pacar itu ternyata ada hal positifnya juga.

1. Kamu bisa pergi kesana-kemari tanpa ada yang mengkhawatirkanmu
Hal positif pertama yaitu kamu bisa bepergian ke tempat manapun yang kamu inginkan tanpa adanya larangan dari siapapun ataupun yang mengkhawatirkanmu secara berlebihan. Biasanya yang punya pacar, kamu bakalan dilarang ini-itu, masih ditanya perginya sama siapa, dsb. Hal itu pasti bikin kamu jenuh dan kadang juga ngerasa terlalu berlebihan. Karena nggak punya pacar, kamu nggak perlu berdebat dulu buat mutusin kemana kamu mau pergi. Kamu bisa perginya sama teman kamu, sahabat kamu dan kamu bisa lebih leluasa lirik sana-sini. Ya namanya juga jomblo, wajar aja kan kalau matanya jelalatan mencari mangsa. hehe

2. Kamu bisa membeli barang apapun yang kamu mau
Hal positif yang kedua yaitu kamu bisa membeli barang kebutuhanmu secara sepihak artinya kamu nggak perlu mempertimbangkan "nanti dia marah kalau aku boros". Tapi, pastikan dulu barangnya itu bermanfaat buat kamu dan juga budgetmu cukup untuk membeli barang itu. Membeli barang yang kamu inginkan merupakan suatu kepuasan tersendiri karena jomblo itu harus cantik, ganteng dan manawan biar sang doi bisa melirik kita.

3. Kamu bebas mengekspresikan hobimu
Punya pacar itu kadang bisa membelenggu passion yang tersembunyi dalam dirimu. Setelah putus, kamu mulai iseng-iseng menggali beberapa passion yang sempat tertunda. Ternyata, kamu seneng banget sama satu passion itu. Nah, dari sinilah kamu bisa mulai mengawali semuanya, mulai dari NOL ya, meski itu semuanya harus kamu lakukan sendirian. Lambat laun, kamu mulai menjadi master dari hobimu itu. Nah siapa tahu dari satu ketekunan selama ini yang kamu jalani membuahkan hasil dengan bertemu calon pacar baru. ciee... auuww.

4. Lebih dekat sama keluarga, sahabat dan teman
Sobat Ochan, kata pepatah mati satu tumbuh seribu. Nah yang dimaksut dengan seribunya ini artinya kamu masih punya keluarga, sahabat dan teman. Maka, dengan meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka, kamu bisa lebih mengenal mereka. Dengan begitu, kamu lebih menikmati hidup dan kadang malah keasyikan dengan mereka sehingga kamu lupa kalau umur sudah semakin menua dan masih jomblo juga. haha

Sobat Ochan, ada udang dibalik batu. Setiap ketikan ochan ini pasti punya makna buat kamu, yaitu semoga kamu bisa lebih berpikiran positif dalam menjalani kejombloan ini. Karena pura-pura bahagia itu memang menyedihkan dan nggak patut untuk dilanjutkan. Baiknya, kamu menikmati hidup dengan berpikiran positif dan nggak terbelenggu dengan status jomblo.

Oct 20, 2016

Bukan Berarti Heartless Itu Anti Peka, Berikut Alasan kamu memilih jadi Heartless daripada kemakan harapan palsu

Kebanyakan orang, lemah dengan kata rasa, di tulisan sebelumnya aku sudah membahas tentang rasa yang membuatku semakin melemahkan segala yang ada di diriku. Namun, kali ini aku tidak akan membahas tentang kelemahan itu. Kekuatan yang akan menambahku semakin mengerti akan arti kehidupan. Jadi, dalam tulisan ini aku membahas tentang kekuatan sejati yang akan membuat setiap orang yang membacanya semakin kuat akan rasa.

So, apakah kamu sudah tahu apa itu kekuatan yang bisa menguatkanmu? Kekuatan itu sejatinya ada pada dalam dirimu sendiri. Aku menyebut kekuatan yang kuat sampai tak ada yang menandinginya kecuali akan kehendak Tuhan, yaitu kekuatan HEARTLESS.

HEARTLESS adalah kekuatan anti galau yang akan membuang segala keraguan tentang rasa. Heartless itu sangat ampuh banget buat kamu yang mudah putus asa, tukang galau dan juga nggak bisa menahan rasa. Heartless itu apa sih? Heartless itu bukan berarti kamu tidak punya hati, tapi kamu harus menjadi orang yang kuat dan tidak mudah termakan akan godaan. Heartless bukan berarti juga kamu nggak punya hati, tapi kamu take it easy untuk semua masalah yang sedang kamu hadapi.

Ada beberapa alasan kenapa kamu harus jadi orang yang heartless. Berikut baca dengan seksama yuk biar kamu bisa jadi orang yang strong dan anti baper.

1. Heartless bisa menghindarkan dari rasa GR

Siapa sih yang nggak punya rasa GR waktu sang gebetan ngasih kita perhatian? Pasti kamu merasa kalau gebetanmu itu sudah punya rasa ke kamu, sebenarnya sang gebetan itu memang baik sama semua orang. Tapi, kamunya aja yang sering banget ke GR-an. Maka dari itu, disinilah fungsinya HEARTLESS biar kamu nggak terlalu sering merasa GR yag pada akhirnya bakalan bikin kamu sakit sendiri. Heartless ini akan merubahmu menjadi orang yang cuek.

2. Heartless bisa bikin kamu cepat move on

Yes, absolutely kalau heartless bisa bikin kamu cepet banget move on alias bangkit dari keterpurukan. Ada banyak orang yang nggak bisa move on karena mereka terlalu merasakan kesedihan yang membuat mereka tetap tidak mau merubah hal itu. Nah, disini heartless berperan sangat kuat banget karena itu bisa menggugah pikiran positifmu dan memberikan semangat kalau kamu masih bisa bertahan hidup selama kamu masih punya Tuhan dan keluarga yang menyayangimu. Heartless pada dasarnya akan mengajarkanmu bagaimana caranya menjadi orang yang sudah ditempa oleh berbagai macam masalah. Jadi, kalau kamu heartless saat kamu punya masalah, just take it easy then. You will always have a chance or way to get out of it. So, just be fun and enjoy your life although you still have lots of problem, just do it.

3. Dengan heartess, kamu bisa meraih apa yang kamu inginkan dengan mudah

Banyak orang bilang kalau meraih impian. Itu harus dengan rencana yang matang dan dipikirkan terlebih dahulu. Ya, itu sih emang benar adanya. Tapi, kalau kamu kebanyakan mikir, kapan jalanin semua impianmu. Maka dari itu, kamu butuh banget heartless biar kamu gak kebanyakan mikir dan impianmu bisa tercapai. Kamu harus mengesampingkan hal-hal dan orang-orang yang nggak berperan penting buat hidupmu ataupun masa depanmu. Life must go on if its without you, man!

Jadi, kamu yakin masih mau jadi orang yang ANTI HEARTLESS? Yakin juga kamu masih nggak mau membaca artikel ini kalau ternyata manfaat yang kamu dapar dari heartless itu banyak. Jangan lupa, like, share, comment, follow dan subscribe ya. :)

Oct 6, 2016

Kamu, Yang Selalu Mengajarkanku Kehidupan, Tapi Kamu Lupa Bagaimana Caranya Aku Menjalani Kehidupan Kalau Tanpamu

Tak terasa sudah kembali ke musim penghujan. Musim dimana aku dan kamu saat itu sedang diselimuti kebahagiaan. Bahkan tetesan air hujan pun tak pernah kita merasakan kedinginan karena kita saling berpegang erat satu sama lain. Hujan yang membawa semua kenangan pahit yang harusnya sudah sirna namun tergenang kembali dipikiranku.

Aku tak tahu arah dan tujuan saat itu, hanya kau yang selalu setia mengarahkanku pada sebuah visi yang sangat kita idamkan. Namun, Tuhan ternyata tidak berkehendak. Tuhan tak mengijinkan kita berpegangan erat selamanya. Beliau mengirimkan sebuah cobaan berat buatku karena ulahmu. Aku lebur menjadi butiran abu, mudah tersapu oleh hembusan angin rayuanmu. Jangan kalian pikir musibah tersebut tentang hal-hal yang tidak senonoh ya, namun musibah ini sangat membuatku merasa bernanah. Hanya beberapa sahabatku lah yang tahu tentang sekilas cerita yang sangat memuakkan ini.
Memuakkan? Lantas mengapa aku masih saja menginginkan hal ini untuk diceritakan? Karena akan menjadi sebuah pelajaran, pelampiasan, pengertian, penobatan dan pemberian maaf terakhir buat kamu. Memang semua salahku, karena terlalu mengikutimu, menggantungkan segalanya yang aku punya kepadamu, mematikan hidupku sendiri hanya untukmu, membutakan seluruh arah, meredupkan cahaya kesempatan yang datang untukku. Namun, aku menutupnya rapat-rapat dan membuangnya jauh-jauh seakan aku tidak membutuhkan orang lain, selain kamu.

Selama 8 tahun juga aku terlalu kau manjakan, kau enakkan, kau sanjungkan, kau tinggikan, kau acungi jempol, kau positifkan, kau anugerahkan, kau abadikan. Namun, selama 8 tahun pula, kau remehkan, kau penatkan, kau ramaikan, kau khianati, kau sakiti, kau lampaui, kau bohongi, kau caci, kau maki, kau buang, kau abaikan. Pun, aku tetap selalu setia disampingmu meskipun seribu kali aku mencoba untuk menghilangkanmu dari hiduku, Namun, aku tak bisa.
Aku terlalu terhanyut akan tutur katamu yang menyejukkan hati, santunmu yang membuatku terngiang, ramahmu kepada orang lain yang membuatku selalu merasa damai. KAMU! Kenapa kamu begitu sempurna dimataku yang fana ini? KAMU! Kenapa begitu tega berperilaku sedemikian rupa sehingga kau tega menjadikanku sebagai putrimu.

Kamu ajarkanku bagaimana cara mengatasi segala sesuatu. Kamu tuntun aku bagaimana cara menjalani hidup yang benar, tanpa rasa iri hati, dengki, pemaaf, tak congkak dan juga selalu menjadikan air bagi insan yang sedang rindu akan kesegarannya.
Tapi, yang aku sangat kecewa padamu, kamu tak pernah mengajarkanku bagaimana cara hidup tanpamu. Kamu tak pernah mengajarkanku bagaimana cara hidup mandiri tanpamu. Kamu tidak pernah menyentuhkku dengan kata "mandiri" dan "terbiasa" tanpamu. Bahkan, kamu tidak pernah membahas sedikitpun tentang apa artinya kehidupan kalau itu tanpamu!

Aku tak bisa menahan hasrat untuk mengenang segala kelembutanmu, ketololanmu dan juga kesempurnaanmu. Kamu dulu segalanya, bahkan melebihi keluargaku. Kamu dulu bagaikan Raja yang tak pernah aku sedikitpun akan tega menjauh darimu. Kamu dulu laksana jantungku, aku akan mati jikalau itu tanpamu.

Apa ini yang disebut cinta? IYA! Namun, apa ini juga yang disebut dengan sayang? BENAR! Dan, apa ini juga yang dinamakan CINTA SEJATI? TEPAT SEKALI!

Kau tahu, aku tertarik padamu karena matamu yang menyilaukan sanubariku pada masa putih abu-abu. Kamu yang selalu aku nanti disetiap aku melewati lorong sekolah di depan kelasmu. Kamu, yang selalu aku tunggu du halaman sekolah. Kamu, yang selalu aku intai setiap sehabis upacara pagi. Dan, tak ada bosannya aku masih saja menaruh harapan ke kamu yaitu, cinta pada pandangan pertamaku. Terenyuh rasanya ketika aku masih belum tahu yang namanya kerasnya kehidupan, lantas kau datang dengan menghubungiku melalui ponsel buntutku.

Kamu, dengan sejuta paras indahmu datang dan berbincang. Untuk pertama kalinya, hal itu masih teringat jelas bahkan masih nyata dipikiranku. Kamu yang dulu berambut gondrong, kini menjadi 2cm. Kamu, dengan santunnya kau menceritakan pahitnya kehidupan. Dari situlah, aku tahu kalau kamu memang benar-benar orang yang tangguh, kuat dan juga sudah tertempa akan kejamnya dunia.

Namun, karena kebodohanku, aku terlena dengan lelaki lain. Sikap bodohku masih tetap saja tidak berhenti, bahkan sampai sekarang. Sikap terbodohku yaitu MUDAH BOSAN dengan segala sesuatu yang ada. Entah kenapa hal ini sangat menghantuiku disetiap waktu. Bosan, aku tak mau menyalahkanmu namun memang ini adanya aku. Dengan alasan bosan, aku meninggalkanmu terpuruk. Lalu,aku bersamanya dan kau juga tak tahu arah dan tujuanmu kalau tanpaku.

Otak bodohku kembali berguman kalau aku telah merasa bosan dengan lelaki ini. Lantas, aku mencampakkan dia begitu saja dan aku kembali padamu. Kertas yang rapi, lalu terlipat dan tidak akan bisa kembali ke bentuk semulanya yang rapi dan menawan. Begitu juga denganmu, kamu yang tak mau memaafkanku sampai pada akhirnya aku masih bersih kukuh untuk mengejarmu bahkan sampai keujung dunia sekalipun.

Tuhan baik padaku saat itu, kamu mau memaafkan tingkahku yang masih bocah. Dan kita bersama kembali. Sampai dengan cerita yang sama, yaitu otak tololku berkata kalau aku sudah mulai bosan lagi denganmu dan ada seorang lelaki yang mendekatiku, dia begitu menawan dan baik hati. Tak ada bosannya, aku kembali meninggalkanmu. Akhirnya, ada suatu musibah yang sangat membuatku harus memutuskan hubungan dengan lelaki itu. Dan, lagi-lagi Tuhan masih baik dengan sikap bocahku ini. Aku kembali padamu dan kamu juga masih mau memberikan pelukan hangatmu padaku. Kisah tersebut tidak berhenti sampai disini, kisah ini berlanjut sampai yang terakhir kalinya, aku memutuskan untuk tidak akan meninggalkanmu lagi.
Aku sudah membuang semua otak tololku, sikap bocahku dan juga hal-hal yang membuatku berpikiran tentang "BOSAN". Aku tak mau berjelaga lagi dengan penat yang membelenggu. Terima kasih kau sudah mampu membunuh segala penat yang ada dan kita akhirnya saling mengisi, mengerti, memahami, mendalami dan menyeriusi.

Sepertinya, saat musibah itu, Tuhan sedang marah sekali padaku karena kelakuan nakalku terhadap orang tuaku. Aku tidak mengikuti kata orang tuaku yang mana untuk meninggalkamu. Lantas, aku masih tetap mempertahankanmu dengan segala kekuranganmu. Aku mau menutupinya, namun sampai kapan aku harus menutupinya. Apa sampai aku tak berkutik lagi? Sampai tubuh mulai membiru gemas akan tingkahmu yang semakin menjadi. Aku tak tahu harus bagaimana, Tuhan ternyata selalu bersama ridho orang tua.

Musibah itu...
Membuatku tercengang, terbelanga dan ternganga. Entah kenapa Tuhan mengujiku dengan musibah yang tak pernah ku duga sebelumnya. Aku yang dulunya sangat kuat bersamamu, kini menjadi sangat rapuh dan selalu berkecil diri. Aku yang dulunya mampu menutupi segala kekuranganmu, berubah menjadi seorang yang penuh acuh padamu. Apalagi, kau juga yang memperkeruh keadaan. Kau menambah bebanku, beban yang seharusnya aku sudah muak, lalu kau tambah lagi dengan beberapa pikulan lagi. Aku harus bagaimana?
2 November 2015,
Saat itu, aku memutuskan semua bebanku bersamamu. Segala rasaku harus segera aku akhiri sudah. Aku menyudahinya, aku menguburmu dengan sejuta beban yang kau tlah kau beri. Terima kasih atas pikulan beban selama ini. Biarkan aku memikul bebanku sendiri tanpamu, meski kau tak pernah mengajarkanku bagaimana caranya hidup penuh bebabn tanpamu.

Saat ini, aku tak tahu engkau berada dimana, sedang berbuat apa dan bersama siapa. Yang aku tahu saat ini, aku merindukanmu. Aku merindukan sosok lembut itu hadir disampingku. Aku tak kuasa menahan rinduku karena kau begitu memberikan kehidupan namun kau tak pernah memberitahuku tentang bagaimana caraku memaknai kehidupan kalau tanpamu.
Aku, yang engkau sia-siakan selama setahun ini. Entah sampai kapan aku masih tetap saja mengingat segalanya tentangmu, jelas bahkan tak samar. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk melupakanmu. Biarkan hal indah itu menjadi kenangan terpahit dan terindah dalam hidupku. Tak kuasa sekali mataku menahan segala bendungan air mata ini. Padamu jua, aku akan menggoreskan luka yang menyakitkan tapi dapat meneteskan emas yang tak ternilai harganya.

Sekian kisah kerinduanku ini terhadapmu
Padamu salam rinduku, si gondrong IGBL.

Oct 5, 2016

Diriku Saat Ini, Nampaknya Akan Sangat Berjuang Dengan Kesendirian

Lama sekali aku tak pernah menyapa kalangan blogger. Aku hanya terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, sehingga tidak ada lagi hasrat untuk menulis. Tapi, kali ini aku akan meluangkan sedikit waktuku untuk mengisi semua keterbengkalaian ini.

Sebelumnya, aku sudah menulis tentang diriku sendiri dimana aku yang hanyalah seorang gadis penuh dengan liku-liku percintaan yang tak layak untuk ditulis. Namun, apalah daya aku tak punya sesuatu yang menarik untuk ditulis melainkan hal rumit tersebut.

Berbeda, kali ini aku akan menulis tentang diriku saat ini, saat dimana aku tidak lagi hidup dengan cinta. Pada tanggal 5 Oktober 2016, dimana aku tidak lagi memiliki sebuah hasrat untuk mengulang kembali pahitnya kisah kasih yang tidak terjadi disekolah, tapi dimanapun kasih berada. Mari kita mulai.

Keterpurukan, pasti akan dirasakan oleh setiap makhluk yang bernafas. Manusia terpuruk, jatuh, begitu pula dengan hewan yang kelaparan, kedinginan dan juga tumbuhan yang kekeringan memohon kepada sang hujan agar segera membasahinya. Pun, manusia yang akan lebih banyak merasakan keterpurukan tersebut karena manusia punya suatu rasa yang bisa membuatnya semakin menjadi-jadi. Semakin kau menjadi seorang yang perasa, akan semakin terpuruk pula hal pahit yang kau alami. Eh, tapi itu hanya menurutku, kenapa? Karena hal itu sudah sangat terbukti sekali pada pahitnya pengalamanku tentang rasa.

Kalau bicara soal rasa, sepertinya tidak akan ada habisnya, seperti dunia ini yang lingkaran dan tidak berujung. Begitu pula dengan rasa, rasa juga tidak akan pernah berhenti mengetok pintu hati setiap manusia yang lemah. Aku bilang kalau rasa itu bisa membuat kamu semakin lemah, tapi rasa yang akan membuatmu menjadi seorang yang rapuh. Terkadang, rasa juga yang akan membuatmu kuat namun itu hanya sesaat.

Aku sudah penat dengan rasa yang meracuni setiap pikirku, membumbuinya dengan ketidak berdayaanku, menyajikannya dengan hal pahit, bahkan membunuhku secara perlahan tetapi enggan pula untuk memastikan. Rasa, kamu sangat berperan sekali dikehidupanku, sampai aku tahu semua arti kehidupan, mulai dari aspek terkecil sampai terbesar. Rasa, kau yang mengajarkanku tentang kegagalan, jatuh bangunnya kehidupan sampai kehilangan orang yang sudah aku rasa benar. Rasa, entah aku sudah kehabisan akal kalau bicara tentangmu.

Dulunya, aku perasa sekali. Ya, perasa sampai orang berkata aku hanya mengandalkan rasa. Seperti, rasa belas kasihan kepada orang terlalu tinggi, rasa tidak enakan, rasa ketidak adilan alias iri hati, rasa ketidak benaran alias fitnah, rasa ketidak pantasan dan semua rasa tersebut dulunya itu memang sudah bersahabat denganku.

Namun, saat ini aku sudah berubah. Aku sudah bukan aku yang dulu, yang dengan mudah sang rasa menghampiriku sampai pada akhirnya melemahkanku. Rasa, sekarang kamu tidak akan pernah lagi menyentuh sanubariku. Aku sudah menempanya dengan lapisan yang tidak akan engkau tembus, kecuali rasa pada orang-orang yang sudah melekat denganku selama berpuluh tahun lamanya. Rasa, aku tidak bermaksut untuk berkhianat denganmu, tapi aku harus melawan semua ketidak berdayaan ini.

Lantas apa hubungannya aku dengan rasa saat ini? Karena rasa telah memberiku segunung bahkan selangit kenangan pahit bersamanya, aku tidak akan mudah menjadi seorang perasa, lagi. Selongsong hatiku sudah aku putihkan, segenap jiwaku sudah aku tempa dan dinding hatiku sudah aku lapisi dengan tembok emas, jikalau emas itu bersinar maka silaunya akan menyulapkan mata. Ya, itulah aku sekarang. Aku yang tidak perasa akan menjalani sisa hidupku dengan kesendirian. Kesendirian yang membuatku merasa kuat, tak memiliki rasa berlebih, pun juga tak akan menyakiti diriku sendiri karena aku hanya sendiri.

Sendiri, berteman sepi, bersahabat sunyi, berselimut pagi dan terlupakan oleh senja yang menyaji. Aku, hanyalah manusia yang tak bernyali untuk merasakan sebuah rasa yang patut diuji. Aku, bergumam sendiri, berpeluk api, bersandarkan wangi sang melati dan bersiap untuk menelusuri kemana arah angin akan membawaku ke tempat yang selayaknya aku ditakridkan.

Entah sampai kapan aku akan berjuang dengan semua yang tak perasa ini. Entah sampai kapan pula akau akan menjadi orang yang penuh dengan kesendirian. Jangan biarkan aku bermain dengan egoku. Jangan biarkan aku bersenam dengan syahduku. Jangan biarkan aku berdendang dengan petikan gitarku.

Hanya putusan dari sang waktulah yang akan menjawab. Diriku saat ini, yang nampaknya akan sangat berjuang dengan kesendirian karena tidak akan ada lagi rasa yang berlebihan didalam sosokku.

Mar 24, 2016

WTF!ME (What The Fool! Me)

WTF (What The Fool!) ME! –Introduction- What do I do in this city? What am I supposed to do when everything here feel so blur? Everything seems like nothing, I feel like I’m just a tiny dust in the swimming pool. Can you imagine that? How can dust appears in the middle of the pool? I guess it never happens in this world, but this is what I feel right now. Nobodys around me, feels like I’m dying. Till when I’m going to end all of this shit. I was so fucked up, it never ends up to now. Oh hey, I don’t wanna to take all of this story in dumb way, sometimes serious is also not too bad idea. Every stories started with some kinds of wise words, while me? I just started with my fool words. Don’t ever think that I’m smart in faced every single problems. I’m not smart, I don’t like other who always start everything with thinking it so serious. I just don’t know what the fuck am I? Why God create a fool person just like me, what for He created me only just to make me so suffer with the love story. Neyo said “so sick of love songs” but every singers started to create a new wonderful love song. It means nothing wrong with love song otherwise people also really like it. For me, love song is just like as dumb as me because I can’t feel it in the reality. In this way, I really don’t give a shit with love song, either the love story. But me? I had it, more than a thousands I guess. Huh, love is also the core to live alive, without love everything can be nothing, dying like me. You can call me as a death body who walk in the crowded city. Who cares with the death body, unless she will never hit or bite you. That is me! Totally me, no more except me! Talk about my love story, I never had a good love story. That is why I want to tell you the reality that can make me so desperate. Wanna know? How can I solve it? What, Where, When, Why and How can answer all of this desperate. Lets take a look what I did that cause of my desperate. Lets go to the first chapter of my What The Fool love story.

Feb 8, 2013

Guys...
Ladies, saya telah membuka online shop lebih dari 2 tahun, dan alhamdulillah atas berkah Allah SWT sampai sekarang masih jalan dan mendapatkan kepercayaan dari customer sebagai penjual dengan harga termurah karena saya langsung dari pabriknya, entah itu vintage bag dan juga baju pre-order. jadi, silahkan segera hubungi saya di 089 838 76 800. pin bb 27782CAC. Grab it fast girl!

Jun 5, 2011

The Famous Literature creators.

Literature is written work, be it for a specific stream or a subject or be it on variety. The word literature comes from the latin word littera which means letters. Over the years the likes of William Shakespeare and Charles Dickens have had a lasting impact on  people with their amazing literature works. The following list is a comphrensive compilation of famous literature works of all the time.
  • A Christmas Carol by Charles Dickens
  • A Connecticut Yankee in King Arthur's Court by Mark Twain
  • A Dream Within a Dream by Edgar Allan Poe
  • A Midsummer Night's Dream by William Shakespeare
  • A Princess of Mars by Edgar Rice Burroughs
  • A Room With a View by E. M. Forster
  • A Study in Scarlet by Sir Arthur Conan Doyle
  • A Tale of Two Cities by Charles Dickens
  • A Thief in the Night by E. W. Hornung
  • A Treatise on Government by Aristotle
  • A Woman of No Importance by Oscar Wilde
  • A Woman of Thirty by Honore de Balzac
  • Adventures of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle
  • Aesop's Fables by Aesop
  • Agnes Grey by Anne Bronte
  • Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Carroll
  • All's Well That Ends Well by William Shakespeare
  • Allan Quatermain by H. Rider Haggard
  • Allan's Wife by H. Rider Haggard
  • An Ideal Husband by Oscar Wilde
  • An Occurrence at Owl Creek Bridge by Ambrose Bierce
  • Andersen's Fairy Tales by Hans Christian Andersen
  • Anna Karenina by Leo Tolstoy
  • Annabel Lee by Edgar Allan Poe
  • Anne of Green Gables by L. M. Montgomery
  • Antony and Cleopatra by William Shakespeare
  • Apology by Plato
  • Around the World in Eighty Days by Jules Verne
  • As You Like It by William Shakespeare
  • At the Earth's Core by Edgar Rice Burroughs
  • Barnaby Rudge by Charles Dickens
  • Berenice by Edgar Allan Poe
  • Black Beauty by Anna Sewell
  • Bleak House by Charles Dickens
  • Buttered Side Down by Edna Ferber
  • Cousin Betty by Honore de Balzac
  • Crime and Punishment by Fyodor Dostoevsky
  • Daisy Miller by Henry James
  • David Copper_eld by Charles Dickens
  • Dead Men Tell No Tales by E. W. Hornung
  • Discourse on the Method by Rene Descartes
  • Dorothy and the Wizard in Oz by L. Frank Baum
  • Dracula by Bram Stoker
  • Eight Cousins by Louisa May Alcott
  • Emma by Jane Austen
  • Essays and Lectures by Oscar Wilde
  • Essays of Francis Bacon by Sir Francis Bacon
  • Essays, First Series by Ralph Waldo Emerson
  • Essays, Second Series by Ralph Waldo Emerson
  • Ethan Frome by Edith Wharton
  • Harry Potter and the Sorcerer’s Stone by J.K.Rowling
  • Harry Potter and the Chamber of Secrets by J.K.Rowling
  • Harry Potter and the Prisoner of Azkaban by J.K.Rowling
  • Harry Potter and the Goblet of Fire by J.K.Rowling
  • Harry Potter and the Order of the Phoenix by J.K.Rowling
  • Harry Potter and the Half-Blood Prince by J.K.Rowling
  • Lady Windermere's Fan by Oscar Wilde
  • Lincoln's First Inaugural Address by Abraham Lincoln
  • Lincoln's Second Inaugural Address by Abraham Lincoln
  • Little Men by Louisa May Alcott
  • Little Women by Louisa May Alcott
  • Macbeth by William Shakespeare
  • Main Street by Sinclair Lewis
  • Mans_eld Park by Jane Austen
  • Memoirs of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle
  • Middlemarch by George Eliot
  • Moby Dick by Herman Melville
  • Moll Flanders by Daniel Defoe
  • Much Ado About Nothing by William Shakespeare
  • Night and Day by Virginia Woolf
  • Northanger Abbey by Jane Austen
  • Nostromo by Joseph Conrad
  • O Pioneers! by Willa Cather
  • Of Human Bondage by W. Somerset Maugham
  • Oliver Twist by Charles Dickens
  • On the Decay of the Art of Lying by Mark Twain
  • On the Duty of Civil Disobedience by Henry David Thoreau
  • Othello, Moor of Venice by William Shakespeare
  • Ozma of Oz by L. Frank Baum
  • Pandora by Henry James
  • Paradise Lost by John Milton
  • Persuasion by Jane Austen
  • Poems of Edgar Allan Poe by Edgar Allan Poe
  • Pollyanna by Eleanor H. Porter
  • Pride and Prejudice by Jane Austen
  • Pygmalion by George Bernard Shaw
  • Further Adventures of the Amateur Cracksman by E. W. Hornung
  • Rebecca Of Sunnybrook Farm by Kate Douglas Wiggin
  • Robinson Crusoe by Daniel Defoe
  • Romeo and Juliet by William Shakespeare
  • Rose in Bloom byLouisa May Alcott
  • Sense and Sensibility by Jane Austen
  • Silas Marner by George Eliot
  • Tarzan of the Apes by Edgar Rice Burroughs
  • Tess of the d'Urbervilles by Thomas Hardy
  • The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain
  • The Adventures of Pinocchio by Carlo Collodi
  • The Adventures of Tom Sawyer by Mark Twain
  • The Aeneid by Virgil
  • The Age of Innocence by Edith Wharton
  • The Amateur Cracksman by E. W. Hornung
  • The Analysis of Mind by Bertrand Russell
  • The Ballad of Reading Gaol by Oscar Wilde
  • The Bells by Edgar Allan Poe
  • The Call of the Wild by Jack London
  • The Cask of Amontillado by Edgar Allan Poe
  • The Categories by Aristotle
  • The Chessmen of Mars by Edgar Rice Burroughs
  • The Comedy of Errors by William Shakespeare
  • The Count of Monte Cristo by Alexandre Dumas
  • The Emerald City of Oz by L. Frank Baum
  • The Fall of the House of Usher by Edgar Allan Poe
  • The Four Million by O. Henry
  • The Gambler by Fyodor Dostoevsky
  • The Gettysburg Address by Abraham Lincoln
  • The Gods of Mars by Edgar Rice Burroughs
  • The Happy Prince and Other Tales by Oscar Wilde
  • The History of Tom Jones, a foundling by Henry Fielding
  • The History of Troilus and Cressida by William Shakespeare
  • The Hound of the Baskervilles by Sir Arthur Conan Doyle
  • The Hunchback of Notre Dame by Victor Hugo
  • The Hunting of the Snark by Lewis Carroll
  • The Idiot by Fyodor Dostoevsky
  • The Iliad by Homer
  • The Importance of Being Earnest by Oscar Wilde
  • The Innocence of Father Brown by G. K. Chesterton
  • The Innocents Abroad by Mark Twain
  • The Invisible Man by H. G. Wells
  • The Island of Doctor Moreau by H. G. Wells
  • The Jungle Book by Rudyard Kipling
  • The Last Days of Pompeii by Edward Bulwer-Lytton
  • The Last of the Mohicans by James Fenimore Cooper
  • The Legend of Sleepy Hollow by Washington Irving
  • The Life and Adventures of Nicholas Nickleby by Charles Dickens
  • The Life and Death of King Richard III by William Shakespeare
  • The Life of King Henry V by William Shakespeare
  • The Lost Continent by Edgar Rice Burroughs
  • The Lost World by Sir Arthur Conan Doyle
  • The Man in the Iron Mask by Alexandre Dumas
  • The Man Upstairs and Other Stories by P. G. Wodehouse
  • The Man Who Knew Too Much by G. K. Chesterton
  • The Man with Two Left Feet by P. G. Wodehouse
  • The Masque of the Red Death by Edgar Allan Poe
  • The Merchant of Venice by William Shakespeare
  • The Merry Adventures of Robin Hood by Howard Pyle
  • The Merry Wives of Windsor by William Shakespeare
  • The Moon and Sixpence by W. Somerset Maugham
  • The Moonstone by Wilkie Collins
  • The Murders in the Rue Morgue by Edgar Allan Poe
  • The Mysterious A_air at Styles by Agatha Christie
  • The Mystery of Edwin Drood by Charles Dickens
  • The Mystery of the Yellow Room by Gaston Leroux
  • The Odyssey by Homer
  • The Origin of Species means of Natural Selection by Charles Darwin
  • The Phantom of the Opera by Gaston Leroux
  • The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde
  • The Pit and the Pendulum by Edgar Allan Poe
  • The Portrait of a Lady by Henry James
  • The Purloined Letter by Edgar Allan Poe
  • The Raven by Edgar Allan Poe
  • The Red Badge of Courage by Stephen Crane
  • The Republic by Plato
  • The Return of Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle
  • The Rime of the Ancient Mariner by Samuel Taylor Coleridge
  • The Scarecrow of Oz by L. Frank Baum
  • The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne
  • The Sonnets by William Shakespeare
  • The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde by Robert Louis Stevenson
  • The Taming of the Shrew by William Shakespeare
  • The Tell-Tale Heart by Edgar Allan Poe
  • The Tempest by William Shakespeare
  • The Tenant of Wildfell Hall by Anne Bronte
  • The Three Musketeers by Alexandre Dumas
  • The Time Machine by H. G. Wells
  • The Tin Woodman of Oz by L. Frank Baum
  • The Tragedy of Coriolanus by William Shakespeare
  • The Tragedy of King Lear by William Shakespeare
  • The Tragedy of King Richard the Second by William Shakespeare
  • The Voyage Out by Virginia Woolf
  • The War in the Air by H. G. Wells
  • The War of the Worlds by H. G. Wells
  • The Wind in the Willows by Kenneth Grahame
  • The Wisdom of Father Brown by G. K. Chesterton
  • The Wonderful Wizard of Oz by L. Frank Baum
  • Three Men in a Boat by Jerome K. Jerome
  • Through the Looking Glass by Lewis Carroll
  • Thus Spake Zarathustra by Friedrich Nietzsche
  • Thuvia, Maid of Mars by Edgar Rice Burroughs
  • To Helen by Edgar Allan Poe
  • Treasure Island by Robert Louis Stevenson
  • Twelfth Night by William Shakespeare
  • Twenty Thousand Leagues Under the Seas by Jules Verne
  • Twenty Years After by Alexandre Dumas
  • Typee by Herman Melville
  • Ulalume by Edgar Allan Poe
  • Uneasy Money by P. G. Wodehouse
  • Up From Slavery: An Autobiography by Booker T. Washington
  • Vanity Fair by William Makepeace Thackeray
  • Walden by Henry David Thoreau
  • War and Peace by Leo Tolstoy
  • Warlord of Mars by Edgar Rice Burroughs
  • White Fang by Jack London

THE GREATEST ENGLISH LITERATURE

All you need to know about great literary works

While earning my bachelor's degree in English literature I ran into a reoccurring theme:  death, death and more death!  To be a great work of literature, it seems there has to be death.   (Okay, I'm purposely overgeneralizing, here, but there is some truth to it.)  Thus this (I hope) humorous look at great literary works!

Romeo and Juliet 
By William Shakespeare
People fall in love, then die.
The Glass Menagerie 
By Tennessee Williams
Everyone is so miserable they wish they were dead.
All Quiet on the Western Front 
By Erich Maria Remarque 
Men experience the horror of war and every single character dies.
The Scarlet Letter 
By Nathaniel Hawthorne
Two men fight over Hester and then die.
Macbeth 
By William Shakespeare
Macbeth kills people and then dies.
The Great Gatsby 
By F. Scott Fitzgerald
Myrtle dies, Wilson kills Gatsby and then commits suicide.
Great Expectations 
By Charles Dickens
A convict helps Pip become educated and then dies.
The Red Badge of Courage 
By Stephen Crane
A soldier spends the whole book whining about how afraid he is to die.
Huckleberry Finn 
By Mark Twain
Huck pretends to be dead so he can have adventures.
Tom Sawyer 
By Mark Twain
Injun Joe chases Tom until he dies.
Antigone 
By Sophocles
Everyone inbreeds and dies.
Our Town 
By Thorton Wilder
Everyone dies, but the play goes on anyway.
A Doll's House 
By Henrik Ibsen
Nora decides she'd rather die than stay with her husband.
Moby Dick 
By Herman Melville
Ahab chases a whale and dies.
War of the Worlds 
By H.G. Wells
The Martians kill a bunch of people and then fall over dead.
A Christmas Carol 
By Charles Dickens
Scrooge is visited by dead people.
Dante's Inferno All about where you might go when you die.
Don Quixote 
By Miguel de Cervantes
An old guy goes crazy and dies.
Hound of the Baskervilles 
By Arthur Conan Doyle
Holmes must find out why someone died.
Phantom of the Opera 
By Gaston Leroux
A guy can sing beautifully but looks like he's dead.
The Awakening  
By Katie Chopin
A woman learns to think for herself and then dies.
Beowulf 
Ancient European Legend
The hero rips off the monster's arm and it dies.
Lord of the Flies 
By William Golding
A bunch of kids degenerate into wild behavior and some of them die.
War and Peace 
By Lev Nikolayevich Tolstoy
A book so long that by the time you finish it, you'll be dead.
The Fall of the House of Usher 
By Edgar Allan Poe
It turns out the guy's sister isn't as dead as he thought!
The Tell-Tale Heart 
By Edgar Allan Poe
The murderer is afraid his victim isn't really dead.
White Fang 
By Jack London
People have a hard time believing that if they hang around with a wolf they won't end up dead.
The Canterbury Tales 
By Geoffrey Chaucer
People travel to visit a place where a famous guy died.
Hamlet 
By William Shakespeare
Hamlet talks to himself, goes nuts and pretty much everyone dies.
A Night to Remember 
by Walter Lord
The Titanic sinks and lots of people die.
Fuenteovejuna 
By Lope de Vega
The evil Commander insults the women's honor until the townpeople get fed up and kill him.
Wuthering Heights 
By Emily Brontë
Heathcliff is bitter and lonely and over 60% of the cast dies.  (Yes, I actually calculated this.)
Jane Eyre 
By Charlotte Brontë
No one can be happy until the crazy lady in the attic dies.
The Odyssey 
By Homer
It turns out Odysseus isn't dead and he comes back to kill the people who were cozying up to his wife.
Much Ado About Nothing
By William Shakespeare
Hero pretends to be dead, while Benedick thinks he would die of embarassment if he told Beatrice how he really feels about her.
The Color Purple
By Alice Walker
Celie struggles to find happiness until her father dies and she inherits property.
1984
By George Orwell
Anyone who criticizes the government will probably end up dead.
Treasure Island
By Robert Louis Stevenson
A bunch of men end up dead while looking for treasure.
The Jungle Book
By Rudyard Kipling
Mowgli is raised by animals after his parents die.
Walden
By H.J. Thoreau
Better think for yourself and appreciate the little things or when you die you won't have lived.
pretty much any poem
by Emily Dickinson
Death, death and more death.
Les Miserables
By Victor Hugo
Life sucks and nearly everyone dies.
Grapes of Wrath
By John Steinbeck
Better move west or we'll all die.
Richard II
by William Shakespeare
Henry Bolingbroke plots against Richard II, and once he has the crown, orders his death.
Richard III
by William Shakespeare
A whole bunch of people die as Richard III tries to secure his claim to the throne of England.
Othello
by William Shakespeare
Iago gets jealous, Othello gets suspicious, and most of them die.
As You Like It
by William Shakespeare
People cross-dress and hang out in the forest, and because it's a comedy they all get married instead of dying.
All's Well That Ends Well
by William Shakespeare
Helena stops the king from dying, lets her husband think she's dead, and eventually they all live happily ever after.
Henry V
by William Shakespeare
Henry conquers France and a bunch of people die.
The Winter's Tale
By William Shakespeare
A bunch of people are thought to be dead, but really aren't.
A Midsummer Night's Dream
By William Shakespeare
If Hermia doesn't marry Demetrius she'll probably be killed, but she runs off with Lysander. A bunch of fairies complicate things by playing pranks, and, surprisingly, no one actually dies.
Measure For Measure
By William Shakespeare
People are in danger of dying because sleeping around is illegal.
Antony and Cleopatra
By William Shakespeare
The title characters are involved in political intrigue and eventually end up dead.
King Lear
By William Shakespeare
An old king fights with his three daughters and they all end up dead.
Henry IV, Parts 1 and 2
By William Shakespeare
Prince Hal parties with Falstaff until he finally grows up and starts helping to kill people to secure his claim on the throne.
Heart of Darkness
By Joseph Conrad
As Marlow sails up the Congo everyone tells him how great this guy Kurtz is, but as soon as they meet, Kurtz dies.
Njal's Saga
By an unknown thirteenth century author
Old Icelandic people sue each other, marry and get into fights where lots of people die.
Mrs. Dalloway
By Virginia Woolf
Rich British people sit around and whine until a shell-shocked WWI vet jumps out a window and dies.
Season of Migration to the North
By Tayeb Salih
A stranger comes to the village and dies, after which his wife and her second husband kill each other and the narrator thinks about committing suicide.
Sister Carrie
By Theodore Dreiser
Carrie comes to the big city and uses a couple men to get rich and famous, but one of them dies penniless, and in the end Carrie seems destined to die alone.
What Maisie Knew
By Henry James
A little British girl would be better off if her parents were dead instead of divorced, since they use her as a pawn and make her life miserable.
Le Morte d'Arthur
By Sir Thomas Malory
The story of how King Arthur of Camelot dies.
 Thanks!*

Buku dan Karya Sastra Terkenal

Banyak buku karya sastra masa lalu yang sangat terkenal dan hingga kini perlu dipelajari oleh tunas bangsa. Harapanya, dengan mengenal karya sastra terkenal, sejarah bangsa dari masa ke masa tidak akan putus. Generasi bangsa yang lahir saat ini atau menikmati gemerlapnya abad global ini selalu ingat pesan sang proklamator: jasmerah = jangan sampai meninggalkan sejarah.

Di antara karya terkenal itu antara lain :
1. Siti Nurbaya (Marah Rusli), tokoh utama Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, Datuk Maringgih.
2. Atheis (Akhdiat Kartamiharja) tokoh utama Kartini, Hasa, Rusli, Anwar.
3. Belenggu (Armjn Pane), tokoh utama dr. Sukartono, Sumartini, Rohayah.
4. Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), tokoh utama Zainab, Hamid.
5. Dian yang Tak Kunjung Padam (STA), tokoh utama Yasin, Molek, Sayid Mustofa.
6. Kasih Tak Terlarai (Suman Hasibuan), tokoh utama Taram, Nurhaida, Syekh Abas.
7. Keluarga Gerilya (Pramudya Ananta Toer), tokoh utama Saman, Darsono, Salamah.
8. Layar Terkembang (STA), tokoh utama Tuti, Maria, Yusuf.
9. Mencari Pencuri Anak Perawan (Suman Hasibuan), tokoh utama Si Joon, Si Nona, Si Tairoo.
10.Robohnya Surau Kami (Abdul Muis), tokoh utama Ajo Sidi, Haji Saleh, Kakek.
11.Salah Asuhan (Abdul Muis), tokoh utama Hanafi, Corrie, Rafiah.
12.Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (Hamka), tokoh utama Zainudin, Hayati, Aziz.
13.Katak Hendak Jadi Lembu (Nur Sutan Iskandar), tokoh utama Suria dan Zubaida.
14.Aki(Idrus), tokoh utama Aki dan Sulasmi.
15.Tak Putus Dirundung Malang (STA), tokoh utama Mansyur, Lasminah, Darwis.

Empat Karya Sastra Termahsyur

Empat Karya Sastra Termasyhur (Hanzi: 四大奇書, hanyu pinyin: sida qishu) adalah empat karya sastra berupa novel yang dianggap merupakan karya sastra yang paling terkenal dan menonjol di dalam sejarah Tiongkok. Empat karya ini pertama kali diungkapkan oleh sastrawan terkemuka Dinasti Ming, Feng Menglong.
Buku novel yang termasuk ke dalam kategori tadi adalah:
  • Kisah Tiga Negara, karya Luo Guanzhong, zaman Dinasti Ming
  • Batas Air, karya Shi Nai-an, zaman Dinasti Ming
  • Perjalanan ke Barat, karya Wu Cheng-en, zaman Dinasti Ming
  • Jin Ping Mei, karya Lanlin Xiaoxiaosheng, zaman Dinasti Qing
Namun kalangan pengamat sastra Tionghoa di Jepang mengemukakan versi lain bahwa Impian Paviliun Merah dari zaman Dinasti Qing jauh melebihi pamor Jin Ping Mei. Untuk ini di kemudian hari ada istilah Empat Tulisan Termasyhur (四大名著) yang menggantikan Jin Ping Mei dengan Impian Paviliun Merah.

Unsur-Unsur dalam DRAMA

Banner generated at Pimp-My-Profile.com
 Unsur-Unsur Intrinsik
Unsur-unsur intrinsik drama adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman  (1996 : 23) ada 7 yakni : 1. Alur. 2. Amanat, 3. Bahasa, 4. Dialog, 5. Latar, 6. Petunjuk teknis, 7. Tema, 8. tokoh.
Alur menurut Akhmah Saliman (1996 : 24), alur adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : 1. Perkenalan, 2. Awal masalah, 3. Menuju klimaks, 4. Klimaks, 5. Penyelesaian.
  
Amanat
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 67) amant adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya.
Harimurti Kridalaksana (183) berpendapat amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya.
Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut.
  Bahasa
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68), bahasa yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style).
Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budyaa, dan pendidikan.
Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku. 
Dialog
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.
   Latar
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.
  Petunjuk Teknis
Petunjuk teknis adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya.
Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan.
Tema menurut WJS Poerwadarminta (185 : 1040) tema adalah pokok pikiran. Mursal Esten (1990) berpendapat tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan.
Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam dramanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang drama.
Tokoh
Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32).
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 25 : 27) berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat, 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik, 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, masih menurut Akhmad Saliman (1996 : 27) berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni : 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita, 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita.
Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama.
Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini. 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik.
Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra (Saliman, 1996 : 33).
Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama.
Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi . 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.

Mau jadi Artis sinetron ? Yuukk simak kilas tentang AKTING YANG BAIK.

AKTING YANG BAIK
 
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
terdengar (volume baik)
jelas (artikulasi baik)
dimengerti (lafal benar)
menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
terlihat (blocking baik)
jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
 
Penjelasan :
· Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
 
· Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan
jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang
diucapkan menjadi tumpang tindih.

· Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang
dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
 
· Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan
kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
 
· Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu
dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain
yang ditutupi.
 
Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar
belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :
· Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.
· Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
 
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain
mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:
· Bagian kanan lebih berat daripada kiri
· Bagian depan lebih berat daripada belakang
· Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah
· Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
· Yang terang lebih berat daripada yang gelap
· Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi
 
Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai
adegan yang berlangsung
 
1. Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang
dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu
terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting

2. Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari
hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan
kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
 
3. Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai
tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Drama Dan Teather apa bedanya sih ??

ARTI DRAMA
Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti
berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII
dibuat istilah Sandiwara.

ARTI TEATER
Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang
diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah
yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

Pengertian Prosa Fiksi


Karya satera menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya sastera fiksi atau ada yang menyebut ceitera rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastera yang beragam prosa.
Prosa Fiksi adalah kisahan atau ceritera yang diemban oleh palaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu ceritera. (aminuddin, 2002:66). Sedangkan M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1988:106) mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi, narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
Pengertian lain dikemukakan oleh Sudjiman, (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah ceritera rekaan, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa.
Logika dalam prosa fiksi adlah logika imajnatif, sedangkan logika dalam nonfiksi adalah logika factual.
Prosa fiksi dapat dibedakan atas pendek dan novel. Ada juga yang memilahnya menjadi tiga, selain cerpen, dan noel, tersebut juga istilah roman.
Nurgiantoro (2000:10) MENGUTIP Edgar Alan Poe yang mengatakan cerpen merupakan prosa fiksi yang dibaca selesai sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah jam sampai dua jam, yang agak sulit jika dilakukan untuk sebuah novel.
Sudjiman (1984:14) mengemukakan bahwa ceritera pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal dominan.
Plot cerpen biasanya tungggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa, dan urutan peristiwa bias terjadi dari mana saja. Kalaupun ada perkenalan tokoh dan latar, tidak berkepanjangan. Karena plot tunggal, konflik dan klimak pun biasanya bersifat tunggal pula.
Tema dalam ceritera pendek biasanya hanya berisi satu tema. Hal itu berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas. Sebaliknya, novel dapat saja menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan.
Penokohan cerpen hanyaterbatas, apalagi yang bersetatus tokoh utama. Tokoh cerpen terbatas baik jumlah maupun data-data tokoh, misalnya terkait dengan perwtakan. Dengan demikian pembaca harus menyimpulkan dan menerka sendiri perwatakan lengkap yang muncul dalam cerpen.
Pelukisan latar cerpen tidak memerlukan detil khusus tentang keadaan luar, misalnya tentang tempat dan social. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besar saja atau bahkan secara implicit asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan (Nurgianytoro, 2000:13).
Cerpen lebih bias mendukung unity. Artinya segala sesuatu yang diceriterakan mendukung tema utama. Semua unsure pembentuk cerpen harus saling berkaitan. Pencapaian kepaduan cerpen lebih mudah dicapai. Dalam novel agak sulit karena biasanya novel terbagi atas bab yang masing-masing berisi ceritera yang berbeda.
Novel berasa dari kata novella (Italia) yang secara harfiah berarti ”sebuah barang baru yang kecil”. Novel pengertian menurut Sudjiman (1998:53) prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun.
Plot novel, karena tidak keterkaitan dengan panjangnyua tulisan, umumnya memiliki lebih dari satu plot. Plot novel biasanya terdiri plot utama dan subplot.
Tema dalam novel tidak menutup kemungkinan terdiri atas lebih dari satu tema, yaitu tema utama dan tema-tema tambahan.
Tokoh-tokoh dalam novel biasanya diceriterakan lebih lengkap, misalnya cirri-ciri fisik, keadaan social, tingkah laku, sifat dan kebiasaan.
Pelukisan latar dalam novel, umumnya lebih rinci, sehingga dapat menggambarkan latar lebih jelas, konkret dan pasti.

Pengertian Puisi dan Unsur-unsurnya

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.

Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.

Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.

Yang Membedakan Puisi dari Prosa
Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.

Unsur-unsur Puisi
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.

Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1)   Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2)   Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3)   Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4)   Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1)   Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)   Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3)   Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4)   Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5)   Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6)   Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.